Selasa, 11 September 2007

Babi....oh.... Babi......

Seorang Kristen memperkenalkan dari Laskar Kristus, sangat keberatan dengan tampilnya rubrik Bimbingan Tauhid dan liputan-liputan Sabili tentang gerakan pemurtadan dan Kristenisasi. Berulang kali Kenan -nama alias- menyampaikan protesnya melalui SMS. Menurutnya, majalah Sabili selalu mengusik agamanya, padahal dia tidak pernah mengusik agama Islam. Salah satu SMSnya adalah: “Hai Sabili, gimana kalian udah ketemu di majalah apa agama kami menjelekkan agama kalian? Saya mau tanya kenapa kalian haram makan BABI? Sedangkan BABI dicipta sama Tuhan?” (dikirim 07/01/2007 dari HP 085245879###).

Nampaknya Kenan ketinggalan informasi. Di rubrik ini, buku-buku dan majalah Kristen yang melecehkan Islam sudah diungkap dan disanggah. Silahkan Kenan membaca buku Awas Bibel Masuk Rumah Kita yang diterbitkan oleh Sabili.

Kasus terbaru adalah majalah Midrash Talmiddim yang diterbitkan oleh Pendeta Edi Sapto. Dalam majalah yang diketuai oleh Pendeta Yosua ini, Islam disudutkan dengan berbagai tuduhan tanpa dasar, antara lain: Allah dalam Al-Qur`an itu menyesatkan dan tidak Maha Pengampun; gambar Bunda Maria, gambar Yesus dan Salib terdapat di ka'bah; Nabi Muhammad pernah bergabung dengan peribadatan kafir; Nabi Muhammad pemarah dan pembuat ayat Al-Qur`an; dll.

Kenapa umat Islam haram makan babi padahal babi adalah ciptaan Tuhan? Secara berkelakar, pertanyaan ini sebetulnya bisa saja dijawab dengan balik bertanya kepada penanya: mengapa orang tidak mau makan tikus, belatung, ulat, kecoak, orong-orong, nyamuk, jentik, cacing, cicak, kadal, laba-laba, tawon, kecebong, wereng, bangkai, dan lain-lain? Padahal itu semua adalah ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, secara gampang orang bisa menyimpulkan bahwa tidak semua ciptaan Tuhan itu untuk dikonsumsi oleh mulut manusia.

Secara tegas, umat Islam haram makan babi karena Tuhan telah mengharamkannya dalam Al-Qur`an: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,...” (Qs. Al-Ma`idah 3; bdk: An-Nahl 115, Al-Baqarah 173, Al-An'am 145).

Memang, Allah telah menciptakan segala yang ada di muka bumi (ma fil ardhi jami'an) untuk manusia (Al-Baqarah 29, Al-Jatsiyah 13). Tapi bukan berarti semuanya untuk dimakan, melainkan ada yang dipantang.

Allah itu Maha Baik (Thoyyib) yang menyukai kebaikan. Maka Dia tidak akan menerima segala hal kecuali yang baik saja. Dengan adilnya Dia mempersilahkan manusia mengkonsumsi seluruh ciptaan-Nya yang halal dan baik (thoyyib), serta tidak berlebih-lebihan (Al-A'raf 31).

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Qs. Al-Baqarah 168).

Dalam pandangan Alkitab (Bibel), keharaman babi dinyatakan jauh lebih ekstrim. Babi tidak hanya haram dimakan, tapi juga haram disentuh. Segala yang menyentuh daging babi menjadi najis (Imamat 11:26-27). Tentang haramnya babi dalam Bibel, Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun:

“Dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua, yaitu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Janganlah kamu makan dari pada dagingnya dan jangan pula kamu menjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu” (Imamat 11: 7-8, bdk: Ulangan 14: 8).

Para penggemar sate babi harus membaca ayat-ayat tersebut dengan lapang dada. Apalagi, dalam sepanjang hidupnya Yesus tidak pernah makan babi. Dalam ayat-ayat Alkitab, tak ada satu pun ayat yang menyebutkan Yesus memakan daging babi. Malah Yesus pernah membunuh babi dua ribu ekor dengan cara memindahkan roh jahat ke dalam babi hingga mati lemas tercebur danau” (Markus 5:13). Kenyataan bahwa Yesus tidak pernah makan babi dalam Alkitab ini bisa dimaklumi, karena dia tidak menghapus hukum Taurat.

“Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal” (Lukas 16: 17). “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5: 17).

Satu-satunya ayat Injil yang sering dipakai sebagai dalil bahwa Yesus menghalalkan semua makanan adalah Injil Markus 7: 14-19, karena pada ujung ayat 19 itu disebutkan: “Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal”

Dalam Alkitab Today's English Version 1976, penggalan ayat tersebut berbunyi: “In saying this, Jesus declared that all foods are fit to be eaten,” dan ditulis dalam tanda kurung. Biasanya, ayat Injil ditulis dalam tanda kurung itu tidak asli. Contoh ayat yang ditulis dalam tanda kurung adalah Markus 7:16, Markus 9:44 & 46, Markus 11:26, Markus 15:28 dan Markus 16:9-20. Lembaga Biblika Indonesia (LBI), lembaga tafsir resmi milik Katolik, menjelaskan kepalsuan ayat-ayat tersebut. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru dengan Pengantar dan Catatan Singkat terbitan tahun 1978, ayat-ayat tersebut masing-masing diberi catatan kaki “AYAT TIDAK ASLI.”

Ada juga teolog yang mengatakan bahwa semua makanan -termasuk babi- itu halal, karena yang haram bukanlah benda yang masuk ke dalam mulut, tetapi yang keluar dari mulut. Mereka berkilah bahwa pendapat ini sesuai dengan Injil Matius 15:11: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Pendapat ini lemah, tidak logis dan menyimpang dari topik halal-haramnya makanan. Jika semua yang masuk ke dalam mulut manusia tidak menajiskan, bagaimana jika yang masuk ke mulut adalah ganja, morphine, shabu-shabu dan sejenisnya? Apakah jadi halal jika dimasukkan ke dalam mulut, walaupun merusak tubuh, melemahkan pikiran dan membunuh jiwa manusia?

Dalil yang paling kuat dalam Bibel untuk menghalalkan semua makanan adalah ayat-ayat doktrin Paulus, antara lain: “Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani” (Surat Paulus kepada Jemaat Korintus yang Pertama 10: 25).

Menentang hukum Taurat dalam Bibel adalah salah satu karakteristik Paulus. Dalam banyak ayat, Paulus menyatakan permusuhan terhadap hukum Taurat, antara lain: “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.... Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Surat Paulus kepada Jemaat Galatia 2: 16).

Jika ajaran Paulus ini disosialisasikan, maka betapa rusaknya tatanan masyarakat dunia. Karena hukum Taurat tidak semuanya bertentangan dengan zaman. Masih banyak hukum-hukum yang masih sesuai dengan perkembangan zaman bahkan mustahil dihapuskan dan sesuai dengan syariat agama, misalnya: larangan menyembah patung (Keluaran 20: 5); perintah hormat kepada ayah dan ibu (Keluaran 20: 12; larangan membunuh, zina dan mencuri (Keluaran 20: 13-16); dll.

Walhasil, silakan memilih hukum halal dan haram. Ikut Allah dan Nabi yang mengharamkan babi, ataukah ikut Paulus yang menghalalkan babi. Jika memilih opsi yang kedua, camkan resikonya. Karena penelitian medis membuktikan bahwa babi beresiko tinggi terhadap berbagai penyakit ganas yang menular bagi manusia, penyakit virus (yang menyerang organ pencernaan, pernafasan, usus, darah dan flu babi), cacing (cacing trichinella spiralis yang hidup di otot manusia ini, cacing ascariasis yang menghabiskan makanan manusia, cacing pita) dan jamur yang menyerang paru-paru.